Sebuah Harapan Menyalakan Semangat Literasi Di Kaki Gunung Merapi

Semangat warga semakin menyala saat kedatangan relawan membawa misi tentang pendidikan. Sebab, sebelum program ISL ini dijalankan, mereka juga punya angan-angan untuk membangun layanan pendidikan bagi anak-anak usia dini. Mereka ingin membangun rumah baca di tengah-tengah perkampungan agar anak-anak bisa memilki ruang belajar dan bermain yang berkualitas.
Melalui diskusi singkat dengan Kepala RT dan tokoh masyarakat, kami memutuskan untuk memanfaatkan teras dari Puskemas Pembantu untuk dijadikan sebagai lokasi rumah baca. Sebagai permulaan, Rumah Literasi Indonesia menyalurkan buku bacaan untuk anak-anak dengan berbagai genre, mulai dari buku cerita anak, ensiklopedi, sejarah, sains serta beberapa media permainan edukatif.
Hemanto, Ketua RT Kampung Petak Lima, merasa bersyukur karena program ISL ini bisa membantu merealisasikan mimpinya yang sudah lama untuk bisa memiliki rumah baca agar anak-anak bisa mengasah pengetahuan dan keterampilannya. Termasuk memberi kesempatan bagi anak-anak mudanya agar bisa memiliki kegiatan yang positif di lingkungannya.
“Kami sangat senang dan berterimakasih atas kehadiran relawan dari Rumah LIterasi Indonesia yang sudah berkenan menjadikan kampung kami sebagai lokasi penyelenggaraan progral ISL tahun ini. Mesikpun di kampung Petak Lima ini hanya ada 25 KK, tapi tak mengurangi samangat kita untuk membangun ekosistem yang positif yang ditumbuhkan melalui semangat membaca”, tagas Hermanto.
Kolaborasi Sebagai Kunci Dalam Merawat Gerakan Literasi

Melalui kegiatan ISL Jilid 12 ini, Tunggul Harwanto selaku Founder Rumah Literasi Indonesia berharap agar lebih banyak lagi pihak-pihak yang terlibat untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan di daerah 3T.
“Sejak 2014 program ini dijalankan, sudah ada puluhan sekolah yang menjadi target dan menerima manfaat dari kegiatan ini. Privat Sektor (perusahaan) juga perlu dilibatkan untuk kerja barengan ini agar impact yang dihasilkan lebih luas. Salah satu perusahaan yang sampai saat ini membantu kami untuk menyediakan buku-buku berkualitas adalah Gramedia”, ungkap Tunggul.
Inspirasi Sekolah Literasi (ISL) tahun ini juga mendapat dukungan dari Prasetya Mulya Publishing yang ikut menggalang donasi buku bergenre anak-anak di salah satu kampus yang berdomisili di Jakarta. Alhasil 200 eksemplar buku didonasikan untuk program ISL Jilid 12 ini.
Ratusan eksemplar buku-buku tersebut menjadi stimulus dan amunisi dibukanya salah satu rumah baca di perkampungan Petak Lima, Gombengsari. Rumah Baca tersebut juga akan dikelola oleh 2 Relawan Detas yang ditempatkan selama 1 tahun untuk bertugas menjadi guru setelah menerima Beasiswa Banyuwangi Cerdas.
Cita-Cita Anak Gombengsari Yang Terus Dilangitkan

Meskipun hanya 3 hari berkegiatan di SDN 4 Gombengsari dan perkampungan Petak Lima, suasana kedekatan antara relawan dan warga disana begitu terasa. Suasana tersebut tergambar saat di malam terakhir di acara “Panggung Literasi”. Sebuah kegiatan yang memfasilitasi anak-anak untuk menunjukkan bakat dan minatnya di bisang seni.
Semacam pentas seni, relawan dan anak-anak memberikan persembahan melalui puisi, menari, bernyanyi hingga mengajak warga untuk nonton film Pendidikan yang berjudul “Sanggar Senja”. Warga sangat antusias mengikuti puncak kegiatan tersebut di sebuah lapangan yang dikelilingi oleh tenda-tenda relawan.
Dalam kesempatan itu, para relawan menyulut semangat warga untuk semakin yakin bahwa pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik. Salah satu langkah untuk merawat cita-cita mulia tersebut melalui keberadaan rumah baca yang diinisiasi di program ISL Jilid 12 ini. Dengan harapan anak-anak bisa mengasah imajinasi dan kreativitasnya sehingga pengetahuan dan keterampilan mereka akan menjadi bahan baku lahirnya pembelajar sepanjang hayat.