Hari kedua menjadi hari yang ditungu-tunggu oleh relawan dan anak-anak. Sebab, mereka akan belajar selama 1 hari di dalam kelas dan di luar kelas. Kegiatan ini dinamakan “Kelas Literasi” dimana para relawan inspiratory akan mengenalkan profesinya sambil menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter untuk menjadi orang yang sukses di masa depan.

Kak Ferry, Pendongeng asal Bojonegoro ini sengaja jauh-jauh datang dari ujung barat Jawa Timur ini karena terpanggil untuk menjadi bagian dari program Inspirasi Sekolah Literasi tahun ini. Ia ingin menyapa anak-anak Banyuwangi yang punya semangat tinggi untuk belajar meskipun mereka tinggal lokasinya terpencil.
“Melalui program ISL ini saya melihat bahwa masih banyak anak-anak muda yang memiliki kepedulian tentang Hak Pendidikan bagi setiap anak. Sehingga kita harus sering mengabarkan kepada publik bahwa di Banyuwangi ada kegitan yang bisa menjadi ruang bagi anak muda dalam mengasah spirit kerelawanannya”, ungkap Kak Ferry
Dalam upaya menumbuhkan gerakan literasi di sekolah, ratusan eksemplar buku didonasikan untuk perpuastakaan yang disulap oleh para relawan. Memanfaatkan gedung sekolah yang ada, sebuah pojok baca dihias dengan mural yang penuh warna. Buku-buku di tata agar anak-anak mudah menjangkaunya. Dibutuhkan waktu 5 jam untuk menjadikan pojok baca tersebut bisa menjadi area yang menyenangkan untuk membaca.

Yang tak kalah seru, pada malam harinya sebuah panggung sederhana disiapkan untuk melihat pertunjukan dari anak-anak dan para relawan. Kami menyebutnya “Panggung Literasi”. Ada banyak sekali aksi panggung yang seru, mulai dari tarian, seni bela diri, teater anak, puisi dan juga mendongeng.
Sebagai puncak acara, apai unggun besar disiapkan oleh masyarakat sekitar untuk menjadi symbol semangat dalam rangakain acara ISL tersebut. Para relawan membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu-lagu yang riang gembira sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Suasana suka cita begitu terasa, terlebih lagi saat penutup acara ISL ini digelar acara refleksi seluruh para relawan dengan melingkari api unggun yang masih menyala. Satu per satu relawan menyampaikan kesan dan pesannya saat terlibat selama 3 hari di program ISL.
Selain ungkapan suasana kebahagiaan pada malam itu, para relawan juga menyampaikan rasa syukurnya karena bisa menjadi saksi atas perubahan-perubahan kecil yang ada di sekolah tersebut. Melihat anak-anak yang tetap memiliki api semangat untuk belajar di sekolah, pojok baca yang lebih nyaman dan berwarna, buku-buku yang berkualitas serta cita-cita yang terus dilangitkan adalah pengalaman yang tidak bisa digantikan dengan apapun.