“Saya sempat menulis novel yang isinya tentang kisah mahasiswa kedokteran, maka saya harus banyak menggali informasi tentang istilah medis, karena saya tidak memiliki background pendidikan kesehatan. Sumbernya bisa dari internet maupun bertanya langsung ke teman-teman yang berprofesi menjadi tenaga kesehatan”, Jelas Wina.
Selain tema menulis, berkesempatan juga hadir pemuda desa yang berhasil berbagi cerita tentang pengalamanya menembus pasar export melaui usaha kerajinan tangan. Nurahmadi, laki-laki yang berdomisili di Dusun Pancoran, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, hanya mampu mengenyam pendidikan sampai lulus Sekolah Dasar.
Meski beliau hanya lulusan SD, cita-cita dan gagasannya begitu besar. Saat ini beliau berhasil mengelola yayasan pendidikan. Bersama sang istri, beliau mengelola TK dan PAUD Alfirdaus yang lokasinya di tengah perkebunan. Terdapat 25 siswa yang saat ini belajar dan bermain di sekolah tersebut.
“Saya prihatin dengan akses pendidikan yang jaraknya jauh dirasakan warga, belum lagi kondisi jalan yang berbatu dan licin ketika musim hujan. Sempat saya pernah bertemu dengan seorang ibu yang menggendong anak kembarnya untuk diantar ke sekolah yang jaraknya sekitar 7 kila dengan jalan kaki”, ungkap laki-laki yang juga menekuni dunia kerajinan tangan.

Usahanya yang jatuh bangun membuat Nurahmadi kaya akan pengalaman. Mulai dari usaha kerajinan di Kabupaten Jember beliau sudah mampu mengelola 50 pengrajin dan hasilnya sudah diexpor ke Negeri Matahari Terbit, Jepang. Kemudian sempat bangkrut dan merintis kembali di kampung halamannya.
Selanjutnya Nurahmadi kembali fokus mengembangkan kerajinan dengan bahan dasar bambu dan pakis hutan bersama warga setempat. Bahkan awal merintis usaha, beliau rela memberi uang transport agar warga dusun mau datang ke rumahnya untuk dilatih keterampilannya dalam menganyam bambu, rotan dan pakis. Mulai dari membuat tas, dompet, keranjang kecil, kipas, tempat tisu dan beragam aksesoris lainnya.
Selama 3 tahun usaha kerajianan ini berjalan cukup prospek. Sayangnya, saat ini usaha kerajinan yang beliau rintis sudah dikelola oleh pihak lain, terutama sejak kedatangan investor asing yang datang langsung ke para pengrajin tanpa melalui perkumpulan yang beliau gagas.
“Sempat saya mengelola 200 pengrajin, produknya saya kirim ke luar negeri. Namun saat ini usaha saya sudah diambil alih wpihak dan dikelola langsung oleh investor”, jelas Nurahmadi.
Meskipun saat ini usahanya tidak dikelola langsung oleh Nurahmadi, beliau tetap bangga masih ada warga yang menjaga semangat untuk membuat karya di bidang kerajinan. Tahun ini beliau akan meneruskan cita-citanya mendirikan Rumah Tanam Firdaus yang visinya untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat agar muncul kesadaran dalam melihat alam sebagai potensi / sumber daya yang bisa mendukung kesejahteraan masyarakat lokal. Bahkan beliau tak canggung menyampaikan gagasannya untuk mendirikan sekolah tak hanya TK dan PAUD, namun hingga mendirikan Universitas.

Selain kedua narasumber, acara Kelas Relawan juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni pantomime dari Negri Dongeng Performance Institute berkolaborasi dengan Teater Langgas. Selama ini kedua komunitas seni tersebut sering membuat karya kolaborasi dengan relawan. Dalam waktu dekat mereka akan tampil dalam perhelatan Hari Teater Sedunia di Surabaya. Menariknya para pemain teater adalah anak-anak berkebutuhan khusus yang selama ini menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa Kalipuro.