Kini bapak Tuning tak lagi berdoa sebelum menyembelih ayam, bahkan tekanan ketika menyayat leher ayam dengan pisau tak sehati-hati seperti dulu. Seringkali kepala ayam terpenggal dan terpisah dari badan ayam, karena marah pada keadaan, marah pada dukun yang tak juga bisa menunjukkan keberadaan Tuning dan pacarnya.
Jeroan ayam juga tak sebersih dulu, ibu Tuning sibuk mengusap air matanya, sibuk menutup telinganya dari cibiran rekan kerja dan tetangganya. Satu-satunya tempat mencari Tuning hanya dalam surau pinggir kali dekat rumahnya.
Juragan jagal ayam hanya geleng-geleng kepala mengelus dada dan pergi umroh bersama istrinya yang menangis siang malam, kaget anak kesayangannya mabuk minuman keras karena Tuning menolak lamarannya dan memilih kabur bersama pacarnya.
Bagian pengepakan daging, tukang sortir daging, sopir truk bagian pengiriman dan pengambilan ayam pedaging, hingga sopir pribadi juragan ayam pedaging sibuk bertanya-tanya, menemukan alasan mengapa Tuning lebih memilih pacarnya yang kere dan menolak lamaran juragan mereka.
Dan beberapa dari para buruh yang memiliki anak gadis juga sibuk berandai-andai mengapa bukan anaknya yang ditaksir dan dilamar anak juragan mereka yang dulu lahir dalam keadaan prematur.
Jika juragan ayam pedaging tiba-tiba mantuk-mantuk setuju ketika anak kesayangannya kebelet memilih Tuning untuk menjadi istrinya tentu tak lepas dari penerawangan supranatural kepercayaan juragan ayam pedaging. Sorot tajam mata Tuning dipercaya memiliki daya hypnotis. Kelebihan seperti itu akan sangat berguna mempengaruhi orang, ditambah senyumnya yang teduh, menurut penerawangan suprananatural tersebut, kelak Tuning akan menjadi orang besar.
#bersambung