Pada akhirnya, obrolan dengan Kang Tung, memantik saya untuk untuk kembali melakoni kegiatan seperti dulu kala, sewaktu masih aktif di komunitas Aksara. Salah satunya dengan mengisi kelas-kelas di RLB. Pertanyaannya kemudian “Enaknya mengisi kelas apa?”. Dari obrolan lanjutan kemudian lahir ide untuk memulainya dengan kelas dongeng terlebih dahulu. Kenapa kelas dongeng? Karena kita ingin menarik minat mereka terlebih dulu. Setelah itu barulah adik-adik diarahkan untuk belajar berbagai hal, seperti teater, sains, dan lain-lain. Kebetulan dunia dongeng tidak asing untuk saya. Dulu saya suka senang menulis cerita untuk anak-anak juga. Jadi saya optimis saja melakukannya.
Tidak seperti yang saya bayangkan, ternyata mengisi kelas dongeng tidak mudah. Terus terang usai beraksi di depan adik-adik tanggal 14 Januari silam, saya merasa gagal. Saya kurang mampu menciptakan impresi di depan mereka. Mendadak ini menyadarkan saya betapa dunia kerja telah membuat saya kehilangan banyak hal, salah satunya adalah cara saya berkomunikasi dengan mereka yang harus dikalibrasi ulang. Persis seperti pepatah Jawa yang kerap saya denganr “Nek lading ora tahu diungkal, ora tau digawe, bakale gabluk”. Tetapi, bagaimanapun juga saya masih bersyukur. Seandainya hari itu saya tidak mencoba, saya tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya.
Akhirnya ada satu harapan saya, semoga dengan segala keterbatasan saya tetap bisa bersinergi dan berkontribusi di RLB. Dalam bentuk apapun yang saya bisa lakukan atau kerjakan di sana.
Ditulis ulang dari hasil wawancara dengan Mas Wahyu