Dan Laki-laki separuh baya itu adalah Bapak.
Ia ayah saya.
Terima kasih atas segala ikhtiarnya, Pak. Saya hanya bisa melanjutkan keistiqomahan Bapak di jalan ini. Semoga bermanfaat fiddunya wal akhiroh.
Syukur saya kembali, akhir bulan lalu, 21 Februari 2018, tanah itu resmi menjadi yayasan. Yayasan itu bernama : Rumah Literasi Nusantara. Yayasan tempat banyak orang belajar. Insyallah. Semoga diistiqomahkan dan ditetapkan integritasnya. Wallahua’lambishowab.
Pause.
Dari seluruh paragraf diatas, ada banyak lipatan cerita yang belum sepenuhnya tertulis. Dan hampir seluruh lipatan cerita yang tak tertulis itu adalah tentang rintangan, hambatan, nyinyiran, keputusasaan, kesedihan dan sederet keterbatasan dan ketakberpihakan dalam membangun mimpi. Saya memutuskan untuk tak menuliskannya. Titip cerita sama Tuhan saja🙏🙏🙏

Tulisan seratus juta pada selembar uang seribu itu jadi saksi. Seratus juta adalah modal awal membangun Rumah Baca Sahabat Kecil 😮😮. Berjuta-juta selanjutnya dibutuhkan Rumah baca Sahabat Kecil untuk pengembangannya. Dari mana kami peroleh dana itu? Bekerja Lah bersama Tuhan. Ia Maha Kaya.
Kata siapa membangun rumah baca tak butuh biaya? Kata siapa menjadi relawan itu hanya sekedar pekerjaan sambilan saja? Bukan menjadi bagian dalam hidup? Relawan itu seperti makanan halal yang kamu makan. Ia akan menjadi darah dan membentuk karakter dalam dirimu.
*laki-laki (depan)) dalam foto itu alhmarhum kakek saya. Alhamdulillah ia sempat menjadi relawan bersama saya. Ia tahu cucunya bersama kawan-kawannya sedang berjuang.
___________________________________________
Co founder Rumah literasi banyuwangi, Pengelola Rumah Baca sahabat kecil ketapang, pengajar di PAUD sahabat Kecil, dan relawan rumah literasi indonesia