Tuning
Sejak kecil Tuning tak suka makan ayam, apapun jenisnya, apapun masakannya. Kesukaannya melempar jagung, beras, nasi basi kecuali sentrat, jelas membuktikan bahwa Tuning tak benci ayam.
Tuning suka sekali melihat gerakan kepala ayam saat mematuk makanan yang terserak ditanah. Cepat, teratur, dan nampak mirip jarum mesin jahit bergerak ke atas ke bawah mengikat benang pada lipatan kain.
Tuning benci pada gerakan ayam jago saat menindih betinanya, terkesan sepetti pemerkosaan. Meskipun secara kasat mata, dilihat dari cara dan gerakannya betina terkesan seperti menolak, tapi sebenarnya ingin. Tentu saja jika bisa memilih untuk hajat yang satu itu, ayam manapun berjenis pejantan atau betina pasti lebih memilih tidak di tempat umum. Begitulah kuasa Tuhan yang menciptakan dan maha menghendaki, agar manusia bersyukur bahwa dirinya adalah khalifah di muka bumi.
Bisa jadi saat Tuning masih dalam rahim ibunya dan ketika mulai bergerak-gerak tanda di tiupkannya ruh, suara pertama yang tuning dengar mungkin keok ayam saat disembelih. Tuning setingkali hanya makan nasi dan kecap saja, bukan karena tak ada lauk dalam sajian yang diletakkan pada lantai semen beralas tikar saat ibu bapaknya makan dengan tidak lahap. Karena sehari-hari lauk yang ada hanya seputar kepala ayam, jeroan ayam, ceker ayam, dan tentu saja sekali -kali brutu ayam.
Tuning tak bisa menyalahkan bapaknya yang hanya berprofesi sebagai tukang sembelih ayam. Tuning juga tak bisa menyalahkan ibunya yang setiap hari bekerja sebagai tukang membersihkan jeroan ayam. Rumah Tuning persis di belakang tempat penyembelihan ayam. Bersebelahan dengan sumur tandon tempat membuang limbah bekas pembantaian ayam, mulai dari bau ayam, darah ayam, bulu ayam dan tentu saja tai ayam.
Tuning hanya bisa tersenyum mendengar cerita bapaknya yang dengan sabar selama satu repelita, menyisihkan gajinya untuk membeli radio. Dan dari cerita itu pula tuning tau sejarah namanya ternyata di ambil dari nama salah satu panel radio yang diputar untuk mencari gelombang siaran.