Kertas Putih

Kertas Putih

Oleh Faisal Riza

Ketika air ketuban pecah meluncur keluar dari dalam tubuhnya, hangat dan lengket, terasa tidak nyaman. Reaksi naluri tubuhnya panik, lalu kengerian mengambil alih, terasa asam dan atavistik. Arima bertekad tidak akan membiarkan rasa ngeri itu menguasainya. Sepanjang bulan-bulan kehamilannya, kunjungan rutin ke dokter, buku-buku perawatan bayi, hingga kelas senam untuk ibu hamil, sudah terencana dengan detil. Namun tetap saja dalam benaknya terbersit rasa takut, kepanikan menyerbu dalam gelombang-gelombang dan tubuhnya mendadak menjadi canggung. Meskipun telah mengalami beberapa kali, bulir-bulir keringat terlihat menetes pada pelipis Qirom, saat akhirnya berhasil tersambung ke bagian bersalin, dan ia berteriak dalam telpon.

Rambut bayi merah itu berdiri tegak, kedua pipinya yang bulat dan besar terlihat seperti menelan habis hidungnya sendiri. Qirom tersipu-sipu hingga lupa pada istrinya yang tergolek lemas dengan tiga jahitan. Ia seperti jatuh cinta melihat bayi 4,8 kilogram lahir dengan cara normal, menangis, menjerit sekeras-kerasnya. Dari ke empat kelahiran anak-anaknya, baru kali ini ia mengikuti proses tahapan demi tahapan kehamilan istrinya dan menyaksikan langsung proses persalinannya. Arima menyusui untuk pertama kali sambil berbisik pada bayinya, “Jika kau tau apa yang dilakukan ayahmu di hari lahirmu…”

Tak seperti sebelum-sebelumnya, kelahiran keempat anaknya dengan berbagai macam pertimbangan dan alasan kesehatan terpaksa melahirkan dengan cara cesar. Namun bukan karena alasan cesar atau tidak, Qirom merasa kehadiran anak kelimanya telah membuat dirinya sadar bukan saja, selama ini ia terlalu disibukkan oleh pekerjaannya, ditambah dengan konsekuensi bahwa ia menolak alat kontrasepsi, juga bukan karena Qirom tercengang melihat bayi bulat dan montok itu lagi-lagi perempuan, tapi karena kali ini Arima merasa menjadi ibu yang melahirkan anaknya dengan cara yang semestinya, dan juga ia merasa Tuhan sedang mengujinya. Semenjak Arima melahirkan bayi perempuan untuk kedua kalinya, saat itu juga Qirom tak henti-hentinya bermunajat memohon bayi laki-laki. Dengan alasan anak laki-laki adalah simbol penerus garis keturunan, meski pada akhirnya ia pasrah menerima. Qirom memberi nama bayinya, Karuni.

Pukul enam pagi, saat kesibukan para penghuninya, “Umiiii kaos kakiku belum ketemu,” dan “Ayaah, dia mengambil uang jajanku,” dan “Munaaa, mana penjepit rambutku yang kemarin kamu pinjam?” lalu sambil tergesa-gesa “Ayah, nanti aku pulang sendiri, ada tambahan jam pelajaran,” mencium tangan ayahnya dan berlalu sembari mengucap salam, masih menggendong Karuni, Qirom menjawab salam putri pertamanya yang kini telah beranjak remaja. Mata Karuni terbuka oleh keributan pagi, bola matanya yang hitam bergerak ke atas mengejar cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi. Karuni meronta menangis sejadi-jadinya tak sabar ketika Qirom membaringkannya tepat disamping payudara istrinya.

“Bagiku ini mimpi terburuk wanita, aku tak habis pikir Haidar bersedia menjadi istri kedua,” Dengan masih menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, Arima membuka pembicaraan rutin malam hari pada jam anak-anak telah terlelap. “Ini bukan sentimen khas wanita-wanita yang menolak berbagi dengan wanita lain dalam satu biduk rumah tangga untuk satu suami, tetapi lebih kepada mampu atau tidak, adil baik lahir maupun bathin.” Arima membicarakan sepupunya dengan emosional. Qirom menimpali pendapat istrinya. “Haidar atau siapa pun tentu memiliki alasan tersendiri, selain keyakinan yang sejujurnya berangkat dari piilihan yang mungkin tak bisa di tolaknya.” Setelah mencium kening istrinya, Qirom mematikan lampu tidur dan tenggelam dalam selimut, membiarkan Arima duduk sendiri dalan diskusi yang tidak tuntas.

Semenjak kelahiran anak kedua, Arima selalu dihantui rasa cemburu berlebihan. Selama 15 tahun usia pernikahan mereka, Arima tak menemukan satu alasan pun untuk menumpahkan rasa cemburu pada suaminya. Bahkan perasaan itu mulai berkembang menjadi rasa tidak percaya. Hal itu pernah ia sampaikan pada Qirom. Arima teringat ungkapan yang pernah disampaikan ibunya, “Cinta seorang pria baik bisa menyelamatkan hidupmu.” Meskipun ibunya membesarkan Arima bersama kekecewaan-kekecawaan yang tidak ia pahami, Arima tetap menyayangi ibunya. Hal itu sangat mempengaruhi karakter Arima, terutama saat ayahnya berusaha menghubungi setelah kematian ibunya akibat kanker.

“Arima, apa yang dilakukan ayahmu tidak harus mempengaruhi kehidupan rumah tangga kita.” Sejujurnya Qirom adalah pria baik yang pernah Arima kenal. Terutama upaya Qirom menyadarkan Arima untuk tidak menyalahkan ayahnya karena meninggalkan ibunya begitu saja. Hingga akhirnya Arima setuju ayahnya hadir dalam pernikahan mereka. Cinta Arima pada Qirom tumbuh setelah putri pertama mereka lahir. Pada saat Arima kuliah dan bertemu Qirom, bagi Arima pernikahan sama sekali tak terbersit dalam benaknya. Ia hanya ingin memiliki hubungan cinta dan kendali, “Aku lah yang harus mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu.”

#KumpulanCerpenKayuIlalang

Comments

comments