Kertas Putih

“Bagiku ini mimpi terburuk wanita, aku tak habis pikir Haidar bersedia menjadi istri kedua,” Dengan masih menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, Arima membuka pembicaraan rutin malam hari pada jam anak-anak telah terlelap. “Ini bukan sentimen khas wanita-wanita yang menolak berbagi dengan wanita lain dalam satu biduk rumah tangga untuk satu suami, tetapi lebih kepada mampu atau tidak, adil baik lahir maupun bathin.” Arima membicarakan sepupunya dengan emosional. Qirom menimpali pendapat istrinya. “Haidar atau siapa pun tentu memiliki alasan tersendiri, selain keyakinan yang sejujurnya berangkat dari piilihan yang mungkin tak bisa di tolaknya.” Setelah mencium kening istrinya, Qirom mematikan lampu tidur dan tenggelam dalam selimut, membiarkan Arima duduk sendiri dalan diskusi yang tidak tuntas.

Semenjak kelahiran anak kedua, Arima selalu dihantui rasa cemburu berlebihan. Selama 15 tahun usia pernikahan mereka, Arima tak menemukan satu alasan pun untuk menumpahkan rasa cemburu pada suaminya. Bahkan perasaan itu mulai berkembang menjadi rasa tidak percaya. Hal itu pernah ia sampaikan pada Qirom. Arima teringat ungkapan yang pernah disampaikan ibunya, “Cinta seorang pria baik bisa menyelamatkan hidupmu.” Meskipun ibunya membesarkan Arima bersama kekecewaan-kekecawaan yang tidak ia pahami, Arima tetap menyayangi ibunya. Hal itu sangat mempengaruhi karakter Arima, terutama saat ayahnya berusaha menghubungi setelah kematian ibunya akibat kanker.

“Arima, apa yang dilakukan ayahmu tidak harus mempengaruhi kehidupan rumah tangga kita.” Sejujurnya Qirom adalah pria baik yang pernah Arima kenal. Terutama upaya Qirom menyadarkan Arima untuk tidak menyalahkan ayahnya karena meninggalkan ibunya begitu saja. Hingga akhirnya Arima setuju ayahnya hadir dalam pernikahan mereka. Cinta Arima pada Qirom tumbuh setelah putri pertama mereka lahir. Pada saat Arima kuliah dan bertemu Qirom, bagi Arima pernikahan sama sekali tak terbersit dalam benaknya. Ia hanya ingin memiliki hubungan cinta dan kendali, “Aku lah yang harus mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu.”

#KumpulanCerpenKayuIlalang

Scroll to Top