Mbrebes mili. Semalam, saya sedang berada ditengah-tengah milenial, salah satu dusun di desa Bunder. Lagi-lagi, dusun yang bukan tergolong Krajan mencoba menghapus stigma terbelakang. Beberapa tahun terakhir, dalam pengamatan kami selama bergerak, anak-anak muda yang bersemangat membangun justru lahir dari dusun yang sebelumnya tak diperhitungkan. Krajan selalu nomor satu. Itu dulu. Lain dulu lain sekarang. Era keterbukaan seperti sekarang sangat mudah mengajak masyarakat muda (khususnya) dari kampung untuk kembali berperan dalam posisi-posisi strategis dalam pembangun desa.
Kenapa orang tergerak membangun? Ada cita cita. Dari mana kesadaran itu muncul? Pendidikan.
Malam itu, Dusun Mulyosari tak hanya dipenuhi milenials, tapi cita-cita dan kesadaran pada pendidikan juga turut merestui diskusi kami. Ada cita-cita dan kesadaran pada pendidikan adalah kunci membangun masyarakat desa. Saya dan beberapa perwakilan Yayasan Rumah Literasi dan relawan penggerak literasi datang dan turut mengikuti prosesi pengukuhan komunitas pendidikan yang diinisiasi oleh komunitas Gudang Edukasi Mulyosari. Setelah disahkan kepala dusun, langkah pertama para relawan pendidikan Mulyosari adalah belajar. Belajar memulai inisiasi rumah baca. Rumah baca Mulyosari ke 55 dibawah naungan Yayasan Rumah Literasi Nusantara.
Kehadiran kami adalah tanda dukungan penuh atas ide yang didasari oleh ruh kerelawanan ini. Selanjutnya hanya kerja-kerja kolaborasi yang dapat menguatkan dan memberi dampak. Dusun-dusun, desa-desa mulai terbuka pada perubahan. Terbuka dengan belajar pada komunitas literasi yang memberi dampak positif masyarakat.