Tuduhan mereka ‘pemalas’ dan tidak kreatif bukankah lahir dari ketidakmampuan kita menelurkan generasi yang rajin dan kreatif. Kita bawa mereka jadi ‘modern’, tapi ternyata kita belum mampu menampung dinamika kejiwaan anak-anak itu, dan juga kita belum mampu memberi peluang bagi irama dan gairah api baru bagi jiwa mereka.
Infiltrasi budaya asing itu bukan baru kemarin berlangsung. Katakanlah kita tidak berani mengatakan bahwa kita kurang siap tatkala kota kita tercinta ini ‘dipaksa’ mendunia, dan tiba-tiba nampak bahwa kita belum memiliki alternatif sistem yang jelas tentang program pembangunan kebudayaan secara menyeluruh dan terpadu, kecuali pembangunan sektoral dan prioritas-prioritas.
Jangan hanya karena culture everyday baru sebatas kewajiban yang harus di penuhi dan belum berangkat dari kesadaran akan pentingnya pendidikan ‘karakter’ berbasis seni dan budaya, lalu kemudian lembaga pendidikan setengah-setengah melakukan pembinaan secara berkelanjutan. Hal ini tampak dari kuantitas dan kualitas pertunjukan kesenian yang rutin di gelar tersebut belum mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat secara umum.
Kalo culture everyday – pagelaran seni pelajar, masih lengang alias yang nonton hanya wali murid, guru, teman dan beberapa pasangan yang mencari kegelapan remang-remang duduk jauh di belakang menghadap ke arah panggung namun sebenarnya pikiran dan imajinasi mereka sedang berada di tempat lain itu bukan berarti muspro sebagai modus.
Optimismenya adalah anggaplah kelengangan sebagai musik intro sebelum akhirnya tiba pada inter load dari pentas yang kita ‘idamkan’, asal kontinuitas rangsangan tak terputus, tak lelah menghadirkan tantangan terus menerus pada anak-anak kita. Dan sekolah sebagai tempat ‘menemukan kemampuan’, sejatinya seni jangan hanya di pandang sebagai hiburan dan ajang kompetisi semata, tetapi seni sebagai bagian dari kesimbangan kecerdasan anak.
#Blambangan, 28 Oktober 2018