Tangan Tuhan benar-benar bergerak penuh memudahkan jalan kami untuk terus bergerak menebar virus optimis dan bahagia.
Saat kami punya mimpi tapi belum memiliki anak tangga untuk meraih mimpi itu, maka kami siapkan saja diri kami dengan terus bergerak dan berbagi. Bagi kami, Tuhan Tahu tapi Ia masih menunggu. Menunggu kami siap ketika sang guru datang hendak menyampaikan ilmu, menunggu kami siap untuk berbagi saat melimpah kebaikan dari Tuhan atas kami.
Yang abadi di dunia ini adalah perubahan.
Kalimat di atas sudah tak asing lagi kita dengar.
Ya, sebuah perubahan.
Begitupun juga pada komunitas Rumah Literasi Banyuwangi. Saat semakin luasnya wilayah jangkauan dan jejaring, maka banyak hal juga kemudian yang harus disesuaikan dengan kondisi internal. Salah satunya adalah bentuk legalitas sebuah komunitas. Maka kemudian muncullah nama Rumah Literasi Indonesia sebagai bentuk yayasan legal yang mewadahi Rumah Literasi Banyuwangi beserta seluruh jejaring rumahbaca-rumahbaca yang telah terbentuk.
Apakah kemudian ruh dari gerakan kami berubah? Tentu saja tidak. Sejak awal gerakan kami adalah sebuah gerakan pemantik. Yang memantik nyala api semangat untuk berbagi.
Pada pertengahan 2017, saat Rumah Literasi Banyuwangi hampir berusia 3 tahun. Saya harus keluar dari lingkaran. Dan sejak saat itulah, saya benar-benar merasakan bahwa memulai sebuah niat baik itu berat. Apalagi ketika sendiri.
Lebih dari satu tahun ini saya kemudian baru mengerti, bahwa ternyata dibutuhkan sebuah keberanian untuk memulai. Dan dibutuhkan lebih banyak hal lagi untuk mempertahankan.
Apa saja?
Komitmen, kesabaran dan tak pernah lelah untuk berinovasi. Dan lebih dari satu tahun ini, bahkan keberanian untuk memulai saja belum genap saya kumpulkan.
Maka saya sangat bersyukur telah dipertemukan oleh kalian yang disebut relawan. Bergerak dengan nol rupiah. Dan tak pernah lelah menebar virus optimis dan bahagia, yang terus terbawa hingga ke tanah Borneo ini.
Benar adanya bahwa nilai sebuah kehadiran adalah bentuk donasi terbesar yang kita punya sebagai relawan. Tak peduli siapa yang punya ide dan dana, tapi manusia terpilihlah yang akan hadir untuk membersamai sebuah gerakan.
Bagi kami, rumah ini bukanlah milik kami para founder, donatur ataupun sang direktur. Rumah ini milik siapapun yang punya mimpi untuk terus bergerak di dunia literasi. Siapapun kamu. Kamu berhak atas rumah ini.
Maka hadirlah dirumah ini, bersama-sama mewujudkan mimpi. Mengabdi pada negeri.
Selamat ulang tahun relawan literasi…
Selamat ulang tahun Rumah Literasi…
Mari rayakan bahagia, dengan terus berbagi virus optimis dan bahagia.
Salam Literasi
Pantang Tanya Sebelum Baca
Kutai Kartanegara, 19 Oktober 2018
Laili Qomariyah