TAHUN KELIMA

Lilin-lilin ulang tahun itu telah habis terbakar. Mirzam dengan sinar bulan memperhatikan wajah istrinya. Kecantikan Iklima sungguh membuatnya meluap. Yang membedakan hanya pada kosmetik yang dulu tampak berlebihan, sekarang menjadi mutlak bukan untuk mempercantik dirinya, tapi untuk memperhalus bagian tertentu dari dirinya dengan cara yang ia ketahui. Mirzam bertanya-tanya, apa yang akan di katakan Iklima kepadanya dalam gelap.

Mereka duduk bersama hingga pukul sepuluh saat lampu menyala. Sesuatu telah terjadi ketika rumah gelap. Mereka dapat bercerita satu sama lainnya. Malam ketika setelah makan malam, mereka duduk bersama di atas sofa, dan dalam gelap Mirzam memberanikan diri mencium kening dan bibir Iklima dengan kikuk. Setelah sekian lama mereka tidur dalam pIkiran dan kemelut bahwa rumah dalam kehidupan cinta mereka mulai redup. Masih jelas dalam ingatan mereka, merasakan bersama-sama langkah terakhir kaki mereka sebelum Mirzam menarik tangan Iklima dan bercinta dengan kenekatan yang telah mereka lupakan. Iklima menangis bahagia tanpa suara dan membisikkan nama Mirzam.

“Mungkin kita biarkan saja lampu ini padam, meski telah lewat tiga jam agar kita sama-sama mengakui dengan jujur bahwa usia pernikahan kita masih terlalu dini mengatakan, bahwa kita telah kehilangan kepercayaan pada rumah yang pernah kita impikan bersama.” Sekarang giliran Iklima bicara. Ada sesuatu yang membuatnya bersumpah untuk tidak pernah mengatakan kepada Mirzam, dan selama hampir dua tahun ia telah melakukan semampunya untuk menahan hal itu dari pikirannya.

“Kau boleh menyalakan lampu jika mau, bukankan ini tepat pukul sepuluh, saatnya lampu menyala.” Iklima memberanikan diri melihat wajah suaminya. Namun Mirzam menolak dengan alasan, “Aku tak ingin melihat wajahmu saat mengatakannya.” Pada usianya yang ke tiga puluh empat tahun, Iklima terlalu tua untuk di sebut mahasiswa. Setelah perusahaan tempatnya bekerja memberikan beasiswa pasca sarjana karena kecemerlangan Iklima dalam karir. Mirzam juga tak memungkiri pada saat Iklima merobek foto wanita dalam tas kerjanya. Anehnya kejadian itu tak menyulut pertengkaran besar, meski ia berusaha menjelaskannya.

Iklima memilih diam dengan caranya. Memutuskan bekerja hanya akan menunda kehamilannya. Setelah dokter dengan tegas mengatakan kandungan Iklima terlalu lemah, setelah kesekian kalinya keterlambatan haid Iklima bukan lagi kejutan. Hanya perdebatan-perdebatan kecil yang membuat rumah mereka hidup sebagai sebuah rumah tangga.

Dua minggu sekali Iklima duduk sedikit maju dari kursinya, kedua kakinya lurus ke depan bertumpu pada kedua lutut Mirzam. Kuku-kuku pada jari kaki Iklima terpotong dengan rapi. Rutinitas pagi, menyisir rambut Iklima dan mengikatnya yang tak pernah Mirzam lewatkan, sebelum mereka sama-sama pergi bekerja. Meski semenjak bekerja Iklima tak lagi rutin menyeduh kopi dan memasak untuknya.

Mirzam berdiri dan mulai menyalakan lampu, lalu bergegas ke meja makan, menumpuk piring dan membawanya ke bak cuci. Mirzam urung menyalakan kran, karena lampu tiba-tiba padam kembali. “Untuk malam ini aku ingin tetap seperti ini, biarkan lampu padam!” Iklima berujar sambil memeluk Mirzam dari belakang, dan mereka menangis bersama-sama.

#15 Juni 2018

#Minala’idzin Walfa’idzin
Mohon maaf lahir dan bathin

Scroll to Top